Rabu, 29 Mei 2013

Arti Iman dan Rukun Iman


Arti Iman dan Rukun Iman
A. Arti Iman
            Aqidah adalah ajaran tentang keimanan terhadap Ke Esaan Allah. Iman artinya percaya dan bisa disebut juga i’tikad atau aqidah. Segala yang berhubungan dengan kepercayaan disebut dengan iman. Iman itu sejenis ibadah yang dilakukan dengan hati, dengan ringkas dapat dikatakan tempat Iman itu ada di dalam hati.
            Iman kepada Allah ialah membenarkan dengan yakin akan adanya Allah, membenarkan dengan penuh kepercayaan akan Esa-Nya Allah, baik dalam perbuatan-Nya menjadikan makhluk seluruh-Nya maupun dalam menerima Ibadat ( persembahan ) segenap makhluk ( Hamba ) dan membenarkan dengan yakin, bahwa Allah bersifat dengan segala kesempurnaan, suci dari segala sifat kekurangan, suci pula dari menyerupakan segala yang baharu ( Alam ).
Ruang lingkup aqidah atau Iman meliputi :
1.      Iman ( Percaya ) kepada Allah. Tuhan yang menjadikan seluruh alam ini.
2.      Iman ( Percaya ) kepada Malaikat Allah.
3.      Iman ( Percaya ) kepada kitab-kitab Allah. Kitab-kitab suci yang diturunkan oleh Allah atas para Rasul-Rasul.
4.      Iman ( Percaya ) kepada Rasul-Rasul dan Nabi-Nabi yang diutus Allah untuk menyampaikan ajaran-ajaran-Nya kepada makhluk.
5.      Iman ( Percaya ) akan adanya hari Akhirat ( Kiamat ).
6.      Iman ( Percaya ) kepada Qadha dan Qadhar yaitu segala untung baik dan buruk yang kita alami di dunia ini adalah berasal dari Allah Swt.1





Hujjatul Islam wal Muslim, Syeikh Imam al-Ghazali pernah menjelaskan makna iman, terbagi atas tiga hal yaitu :
1.      Berarti pengakuan dengan lidah ( iqrar bi al lisan ).
2.      Membenarkan pengakuan itu dalam hati ( tashdiq bi al-qalb ).
3.      Mengamalkan Iman nya itu dengan rukun-rukun ( ‘amal bi al-arkan ).
Terkait dengan keimanan tersebut, kitab suci Al-qur’an juga menyebut hal-hal apa saja yang perlu di Imani secara terperinci, sekalipun tidak menggunakan kata arkan al-iman. Sebagaimana di sebut dalam QS. An-Nisa [4]; 136, berikut ini :

$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qãYÏB#uä «!$$Î/ ¾Ï&Î!qßuur É=»tFÅ3ø9$#ur Ï%©!$# tA¨tR 4n?tã ¾Ï&Î!qßu É=»tFÅ6ø9$#ur üÏ%©!$# tAtRr& `ÏB ã@ö6s% 4 `tBur öàÿõ3tƒ «!$$Î/ ¾ÏmÏFs3Í´¯»n=tBur ¾ÏmÎ7çFä.ur ¾Ï&Î#ßâur ÏQöquø9$#ur ̍ÅzFy$# ôs)sù ¨@|Ê Kx»n=|Ê #´Ïèt/ ÇÊÌÏÈ  

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisa’ [4]: 136 ).

            Dalam beriman juga diharapkan dapat berihsan. Hal ini supaya dapat menjadi orang yang beriman ( mu’min ) dengan sesungguhnya ( hakiki ). Termasuk dalam pemaknaan Iman itu supaya kita menjadi manusia yang khas ataupun khas ataupun khawas al-khawas, bukan sekedar menjadi manusia awam dalam soal meyakini aqidah Islam.


[1] . H.A. Sori Monang RKT An. Nadwi, M. Th.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar